April 12, 2014
Kehadiran smartphone Nokia berbasis Android semakin dekat. Berbagai rumor dan bocoran informasi seperti foto, spesifikasi, hasil pengujian, dan tampilan antarmukanya bergantian bermunculan.
Dari rumor-rumor tersebut yang paling mengundang pertanyaan adalah apakah Nokia X atau Normandy akan mengusung tampilan seperti Android dan menggunakan layanan-layanan milik Google, seperti Play Store dan Maps.
Menurut sumber KompasTekno yang telah melihat langsung perangkat tersebut di Jakarta, Normandy tidak benar-benar mengusung tampilan Android layaknya ponsel-ponsel Android yang telah beredar.
Tampilan ponsel Android Nokia akan mengadopsi tampilan "Metro" ala Windows Phone. Desain Metro memang identik dan menjadi ciri khas sistem operasi Windows 8 dan Windows Phone yang dikembangkan Microsoft. Metro mengacu kepada gaya kotak-kotak.
Meski demikian, tampilan Metro di Normandy tersebut hanya muncul sebagai tampilan Home Screen, bila digeser ke bawah akan muncul tampilan icon-icon khas Android.
Nokia Normandy memang akan menggunakan Android 4.4 Kitkat yang telah dimodifikasi, sehingga Nokia dapat bebas memodifikasi tampilan antarmukanya.
- Sony Xperia Z Ultra
- Samsung Galaxy Note 3
- Samsung Galaxy S 3 mini
- Samsung Galaxy Premier
- Nokia Lumia1020
- Sony Xperia Android
- Samsung Galaxy S 3
- Samsung Galaxy S Advance
- Samsung Galaxy Note
- Samsung Galaxy Note
Dengan kebebasannya itu, Nokia memodifikasi antarmuka Android pada Normandy agar semirip mungkin dengan Windows Phone, sistem operasi yang digunakan pada seri Lumia. Dengan cara ini, Nokia tidak akan kehilangan ciri khas pada perangkatnya, meskipun menggunakan Android.
Tanpa layanan Google?
Selain tampilan, Nokia pun memilih memakai layanan buatannya sendiri ketimbang memakai produk Google, seperti Gmail, Google Maps, Google Search, dan toko aplikasi Android Play Store.
Masih menurut sumber tepercaya KompasTekno, Nokia dipastikan menanggalkan layanan Google Play Store dan aplikasi Google Maps.
Sebagai pengganti Play Store, aplikasi-aplikasi Android dapat diunduh dari Nokia Store. Toko aplikasi Nokia tersebut nantinya akan dimasukkan berbagai aplikasi-aplikasi Android populer.
Tak seperti Play Store yang terlalu "bebas", aplikasi Android di Nokia Store disebutkan akan melalui proses penyaringan yang ketat untuk mencegah masuknya malware dan aplikasi sampah.
Untuk aplikasi pengganti Google Maps, Normandy akan dibekali aplikasi peta andalan Nokia, Here yang kemampuannya dinilai lebih baik dari besutan Google.
Sementara, untuk layanan e-mail dan fitur mesin pencari, Normandy kemungkinan akan mengedepankan produk Microsoft sebagai pemilik baru Nokia. Gmail bisa jadi akan jadi prioritas kedua setelah Outlook dan Bing akan menjadi mesin pencari utama ketimbang mesin pencari Google.
Nokia Normandy disebutkan memiliki layar 4 inci dengan resolusi FWVGA (850x480), prosesor dual-core Snapdragon 200 berkecepatan 1 GHz, RAM 512MB, dual-SIM, dan kamera 5 megapiksel.
Ponsel Android Nokia ini seperti diketahui sudah "mendarat" di Indonesia. Nokia diam-diam telah mengajukan permohonan sertifikasi Nokia Normandy di Ditjen Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika (SDPPI) Kementerian Komunikasi dan Informatika.
Normandy kemungkinan akan diluncurkan Nokia dalam acara Mobile World Congress di Barcelona, Spanyol, akhir Februari mendatang. Untuk harga, Normandy kemungkinan akan dibanderol dengan harga pada kisaran Rp 1,5 juta.
Menanjaknya popularitas smartphone telah mendorong produsen kamera terus berinovasi agar bisa bersaing dengan gadget mobile yang semakin menjadi alat favorit pengguna untuk menjepret foto itu. Sejumlah perangkat baru yang menggabungkan fungsi kamera dan smartphone pun bermunculan.
Konvergensi itu, misalnya, bisa dilihat pada kamera saku Nikon CoolPix 8c serta Samsung Galaxy Camera yang menanamkan sistem operasi Android di perangkat kamera, juga modul lensa CyberShot seri QX dari Sony yang didesain untuk dipakai melalui gadget mobile.
Canon, salah satu produsen kamera terbesar asal Jepang yang selama ini menikmati dominasi di industri kamera, pun tak luput dari "goyangan" smartphone. Hal ini terutama dirasakan di segmen kamera saku yang bersinggungan langsung dengan gadget mobile baik dari segi harga maupun fungsi.
Akan tetapi, pabrikan ini rupanya memiliki pandangan tersendiri mengenai tren mobile yang belakangan mengemuka. "Kami harus mempelajari lebih dalam lagi soal kemungkinan membuat kamera dengan OS Android, meneliti apakah itu hal yang baik buat kami," ujar General Manager grup kamera saku Canon Hiroyuki Kasuga, ketika ditemui Oik Yusuf dari KompasTekno di kantor pusat Canon di Tokyo, Jepang, Rabu (12/2/2014) lalu.
Untuk sekarang, Canon merasa belum perlu membuat produk semacam CoolPix 8c ataupun Galaxy Camera. Alasannya, seperti diungkapkan oleh Kasuga, sederhana saja, berkaitan dengan populasi smartphone yang sudah meledak belakangan ini.
"Soalnya, sudah banyak sekali konsumen yang punya smartphone. Saya pikir produsen kamera sebenarnya tak perlu membuat produk serupa (kamera Android)," jawab Kasuga menanggapi pertanyaan wartawan.
Menurut Kasuga, sekarang ini adalah masanya setiap orang memiliki sebuah smartphone. Lantaran itu pihaknya tak berusaha membuat perangkat yang terlalu mirip dengan smartphone untuk bersaing langsung.
Sebaliknya, Canon menekankan strategi kamera sebagai pendamping smartphone, untuk digunakan bersama-sama dengan gadget mobile itu. Caranya adalah dengan memperluas implementasi fitur konektivitas macam WiFi di jajaran kamera-kameranya, agar pengguna dapat dengan mudah menghubungkan kamera dengan smartphone dan melakukan hal-hal seperti upload foto ke jejaring sosial.
Konektivitas WiFi memang merupakan fitur yang wajib hadir pada kamera digital di dekade ke dua abad 21. Di lini produk Canon, fitur ini tak hanya ditemukan di segmen consumer seperti kamera saku dan DSLR entry-level, melainkan juga telah menyentuh level enthusiast/ semi-pro seperti pada EOS 70D dan 6D.
- Sony Xperia Z Ultra
- Samsung Galaxy Note 3
- Samsung Galaxy S 3 mini
- Samsung Galaxy Premier
- Nokia Lumia1020
- Sony Xperia Android
- Otomotif
- Mobil
- Motor
- Blackberry
- Berita terbaru
Canon sendiri bukannya sama sekali tak mau menghadirkan teknologi smartphone pada kamera digital. Sebaliknya, produsen ini justru telah mulai menerapkan fitur-fitur ala smartphone di beberapa model kamera saku. Contohnya seperti PowerShot N100 yang dilengkapi dua kamera (salah satunya menghadap ke arah pengguna) untuk memudahkan foto selfie.
HTC tidak melupakan pasar kelas menengah di Indonesia. Hal tersebut dibuktikan dengan dirilisnya Desire 300 untuk pasar Tanah Air.
Beberapa waktu belakangan ini, HTC memang cukup rajin dalam merilis smartphone kelas atas. Terhitung sejak awal tahun 2013, perusahaan asal Taiwan ini telah menghadirkan perangkat bernama One, One Mini, dan One Max. Semua perangkat tersebut dibanderol dengan harga di atas Rp 5 juta.
HTC Desire 300 sendiri memang tidak dipersenjatai dengan spesifikasi yang terlalu tinggi. Akan tetapi, ia sudah dilengkapi dengan fitur-fitur yang ada di keluarga One.
Salah satunya adalah fitur BlinkFeed. Fitur tersebut menampilkan berbagai macam update dari sejumlah penyalur konten, termasuk situs berita dan jejaring sosial semacam Facebook, dan Twitter.
"Sekarang, kami tidak hanya mengubah pandangan orang terhadap pasar kelas menengah dan kelas entri, tapi kami membuat standar baru dengan perangkat dan fitur premium," kata Peter Chou, CEO HTC Corporation dalam keterangan pers yang diterima KompasTekno.
Dari segi spesifikasi, HTC Desire 300 dipersenjatai dengan prosesor Qualcomm Snapdragon S4 1 GHz dual-core, RAM 512 MB, media penyimpanan internal 4 GB, kamera belakang 5 megapiksel, baterai 1.650 mAh, dan berjalan di sistem operasi Android 4.2.2 Jelly Bean.
Perangkat ini dilengkapi dengan layar berukuran 4,3 inci yang mampu mendukung resolusi 480 x 800 piksel.
HTC Desire 300 saat ini sudah tersedia di Indonesia dengan pilihan warna hitam dan putih. Produk tersebut dijual dengan harga Rp2.599.000.
Performa penjualan smartphone HTC diramalkan akan menurun dalam empat bulan ke depan. Dalam kuartal pertama 2014, firma sekuritas UBS meramalkan perusahaan Taiwan tersebut akan merugi.
Dalam risetnya yang dimuat di situs Phone Arena (7/2/2014), UBS menyebut penjualan HTC akan turun 18,6 persen dibanding kuartal empat 2013, dan 18,4 persen dibanding kuartal pertama tahun lalu.
Untuk mengantisipasi hal tersebut terus terjadi di tahun mendatang, HTC berencana fokus membuat smartphone dengan harga yang lebih terjangkau, dan bersaing di pasar menengah ke bawah.
Strategi tersebut diungkapkan langsung oleh Co-Founder dan Chairwoman HTC, Cher Wang. Menurutnya, di masa depan HTC akan lebih banyak menjual perangkat smartphone seharga 150 hingga 300 dollar AS, baik di pasar negara maju ataupun berkembang.
Walau demikian, HTC tidak meninggalkan segmen premium begitu saja. Wang mengatakan HTC saat ini sedang menyiapkan penerus HTC One, yang diberi nama sandi HTC M8. Menurut Wang, M8 akan dijual dengan kisaran harga 600 dollar AS.
Dengan strategi kombinasi bermain di dua pasar sekaligus, Wang mengibaratkan kinerja HTC akan seperti mesin dengan silinder yang lebih banyak. Wang berharap agar tingginya penjualan perangkat smartphone murah bisa menutupi keuntungan kecil yang diraup model premium perusahaan.
Saat ini, dari 51 model smartphone yang terdaftar di China, hanya ada dua model smartphone yang dibanderol di bawah 150 dollar AS, sementara 21 model dibanderol 500 dollar AS.
Menurut analis dari KGI Securities yang berbasis di Taiwan, tren smartphone tahun ini adalah smartphone dengan harga murah dan spesifikasi tinggi. HTC juga disarankan melakukan kampanye agresif di luar target pasar mereka, yaitu pengguna yang telah melek teknologi dengan rentang usia 20-30 tahun.
Setelah mengumumkan seri G Pro 2, pabrikan smartphone Korea, LG akan menjadi pusat perhatian di ajang pameran industri mobile terbesar di dunia, Mobile World Congress yang akan diselenggarakan akhir Februari 2014.
Pasalnya, di ajang tahunan tersebut LG akan menampilkan smartphone generasi ketiga dari lini L Series. Apa kehebatannya? Dengan meluncurkan L Series terbaru, LG menjadi vendor pertama yang membuat smartphone mid-/low-end yang dibekali dengan OS terbaru, Android KitKat.
L Series yang akan diluncurkan LG adalah seri L40, L70, dan L90, yang mengusung ukuran layar beragam, dari 4,5 hingga 4,7 inci. Semua lini L Series terbaru LG dibekali dengan prosesor dual core 1,2 GHz, RAM 1 GB, dan penyimpanan internal 4GB/8GB.
DIkutip dari The Next Web (17/2/2014), smartphone kelas menengah-kebawah buatan LG ini ditujukan bagi pasar di negara-negara berkembang, karena itu LG tidak menyertakan dukungan koneksi LTE.
Yang menarik, LG LSeries terbaru juga akan dilengkapi dengan apa yang dinamakan LG dengan smart cover (Quick Window). Selain berfungsi untuk melindungi smartphone dari goresan atau benturan, cover yang transparan ini memungkinkan pengguna melihat informasi di layar tanpa harus membuka penutupnya.
LG belum mengumumkan berapa harga masing-masing perangkat.
L series generasi ketiga diluncurkan LG untuk bersaing dengan smartphone-smartphone mid end buatan Lenovo dan Huawei. Berdasar riset Gartner, di kuartal 4 2013 lalu, LG menjadi vendor terbesar keempat dengan pangsa pasar 4,5 persen, sementara Lenovo 4,6 persen.
Huawei, di periode yang sama memiliki pangsa pasar 4,8 persen. Gartner mengatakan bahwa penjualan smartphone Huawei meningkat 85 persen di kuartal empat 2013 dan menempati posisi tiga.
Posted by: sulaiiman at
12:11 PM
| No Comments
| Add Comment
Post contains 1616 words, total size 14 kb.
32 queries taking 0.0674 seconds, 48 records returned.
Powered by Minx 1.1.6c-pink.








